KALEIDOSKOP 2019 : Dunia Pendidikan dari Kasus Agni hingga Minum Air Bekas Ludah

  • Kamis, 19 Desember 2019 | 12:23 WIB
foto

KALEIDOSKOP 2019

waluyajaya.com - Begitu banyak informasi atau hal-hal viral yang beredar di tengah masyarakat sepanjang tahun 2019 ini, termasuk kabar yang datang dari dunia kampus.

Kampus yang dikenal sebagai tempat mengenyam pendidikan tinggi, ternyata tidak hanya menghasilkan torehan prestasi, penelitian, atau beragam teknologi baru yang ditemukan.

Terbukti, sejumlah informasi viral di tahun ini diwarnai beragam kabar dari kampus mulai dari peristiwa memilukan, kritik kreatif, hingga hal menarik lainnya.

Dari semua informasi yang ada, berikut ini 5 yang paling banyak menuai perhatian masyarakat.

1. Kasus "Agni" di UGM

Di awal tahun 2019, sebuah kasus pelecehan seksual menerpa mahasiswa UGM. Korban yang kemudian disebut sebagai "Agni" ini mendapat pelecehan seksual dari rekan satu KKN-nya saat ada di lokasi penempatan.

"Agni" pun mengadukan kejadian itu ke berbagai pihak, mulai teman, kampus, kepolisian, hingga women crisis center.

Hingga kisahnya pertama kali muncul di majalah kampus Balairung.

Namun, UGM ketika itu dianggap lambat dan tidak maksimal dalam menyelesaikan kasus ini.

Beragam aksi pun muncul sebagai bentuk dukungan bagi Agni untuk memperoleh keadilan. Pelaku sempat mendapatkan ganjalan untuk diwisuda, tapi pada akhirnya ia dapat lulus dari salah satu universitas negeri di Jogja itu.

Penanganan yang tidak tuntas itu kemudian memunculkan gerakan baru yang belakangan kembali muncul dengan tagar #UGMBohongLagi.

2. Ospek di Universitas Khairun, Ternate

Kabar selanjutnya adalah adanya kegiatan di luar batas pada masa orientasi mahasiswa baru di Universitas Khairudin, Ternate.

Dalam masa ospek tersebut, mahasiswa baru diminta jalan jongkok menaiki anak tangga, kemudian meminum air yang tercampur dengan air yang sudah diminum oleh teman sebelahnya kemudia dimuntahkan kembali ke gelas yang sama.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti menelusuri hal tersebut dan membenarkan itu terjadi di Unkhair.

Kegiatan seperti itu pun tidak dibenarkan untuk dilakukan, karena dapat membuat takut dan khawatir mahasiswa baru maupun orangtua mereka.

Pihak kampus pun mengakui hal tersebut terjadi di lingkungannya dan mencari tahu siapa saja pelaku yang terlibat di dalamnya.

Sanksi akademik akan diberikan, sesuai dengan peraturan yang ada. Misalnya dengan memberhentikan sementara atau tetap, oknum mahasiswa yang terlibat.

3. Paper Mob Mahasiswa UIN Walisongo Kritik Penegakan HAM

Mahasiswa UIN Walisongo, Semarang, membentuk sejumlah formasi menggunakan kertas atau paper mob dan menghasilkan tulisan juga gambar-gambar para korban kejahatan HAM yang belum juga tuntas hingga hari ini.

Misalnya, Marsinah, Munir, Wijhi Tukul, Salim Kancil.

Tak hanya gambar muka yang mereka hasilkan, namun juga sederet kalimat berisi kritik. "Mereka masih mencari keadilan yang mati suri, menguak tabir kriminalisasi yang hadir tanpa buktin kian menanti diadili hari demi hari.

Janji hanyalah janji, keadilan di ujung duri karena regulasi tidak pasti.

#Savehumanity" Tema kemanusiaan yang diangkat, diakui oleh pihak kampus sebagai upaya mereka menggugah pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut.

4. Sabun cuci muka Rp 200.000 di toilet Unpar

Info selanjutnya mengenai keberadaan sabun cuci muka bermerek Sebamed yang ada di sejumlah toilet di Universitas Parahyangan, Bandung.

Keberadaan sabun yang memiliki harga sekitar Rp 200.000 ini kemudian viral di Twitter setelah ada sejumlah akun yang menyebarkannya.

Banyak yang kagum dan heran, karena toilet kampus menyediakan sabun sekelas itu.

Namun, saat dikonfirmasi pihak kampus menyebut produk sabun itu tidak terdapat di semua toilet Unpar, melainkan beberapa saja.

Itu pun merupakan program promosi dari Sebamed dengan memberikan tester produk mereka secara gratis. Pun tidak hanya Unpar yang menjadi lokasi promosi, sejumlah kampus lainnya juga mendapatkan produk serupa.

5. Mahasiswi UNJ disebut meninggal terkena gas air mata

Seorang mahasiswi D3 angkatan 2019 Universitas Negeri Jakarta bernama Tazkiya Khairunisa dikabarkan meninggal akibat terkena semprotan gas air mata pada aksi mahasiswa di Gedung DPR, 24 September 2019.

Saat itu, semprotan gas air mata yang dikeluarkan oleh pihak kepolisian untuk menangani aksi demo memang tengah memancing pro-kontra.

Namun, belakangan diketahui ia meninggal di rumah sakit akibat penyakit jantung yang sudah lama diderita.

Adapun saat aksi digelar, Tazkiya tidak mengikutinya. Hal ini dikonfirmasi oleh BEM UNJ.

Di hari itu, ia justru masuk ke Rumah Sakit Bekasi pada 24 September 2019 malam pukul 23.00 WIB, karena mengalami sesak nafas.

Sebelumnya, pada 22 September 2019, ia juga sempat dilarikan ke RS karena hal yang sama, namun sudah sempat pulang dan kembali ke rumahnya. (red01)

Bagikan melalui
Berita Lainnya